Pasar kaget yang diselenggarakan setiap Car Free Day (CFD) di Gresik mendadak menjadi sorotan. Para pedagang mengeluhkan adanya dugaan praktik jual beli stand serta pungutan liar dengan nominal Rp 500.000. Isu ini memunculkan keresahan dalam komunitas pedagang yang merasa diperlakukan tidak adil. Dengan jumlah pedagang yang rutin berpartisipasi di CFD, muncul berbagai pertanyaan tentang transparansi dan pengelolaan dana yang terlibat dalam penyelenggaraannya.
Masalah Rekening Pribadi
Salah satu kekhawatiran utama para pedagang adalah terkait penggunaan rekening pribadi untuk transaksi pembayaran. Ketika seharusnya proses administrasi diorganisir melalui rekening resmi paguyuban, justru ditemukan adanya penggunaan rekening individual. Hal ini menimbulkan keraguan dan pertanyaan serius di kalangan pedagang tentang sejauh mana keuangan tersebut dikelola secara transparan dan bertanggung jawab. Rekening pribadi dapat membuka celah bagi potensi penyalahgunaan dana.
Pungutan Tak Resmi
Para pedagang harus membayar sebesar Rp 500.000 untuk mendapatkan tempat berjualan di area CFD. Nominal yang cukup besar ini menimbulkan pertanyaan tentang dasar penetapan harganya. Selain itu, tidak adanya transparansi mengenai penggunaan dana ini semakin memicu keprihatinan. Ada kekhawatiran bahwa sejumlah uang ini tidak sepenuhnya dialokasikan untuk pengelolaan kegiatan atau fasilitas pendukung lain yang seharusnya bermanfaat bagi pedagang.
Tuntutan Transparansi
Dalam situasi ini, para pedagang menuntut adanya transparansi penuh atas penggunaan dana yang dikumpulkan dari pungutan tersebut. Mereka berharap pihak penyelenggara menjelaskan secara terbuka bagaimana uang tersebut digunakan dalam mendukung operasi hari bebas kendaraan dan apa manfaat konkrit yang diterima oleh para penjual di lapangan. Rasa saling percaya antara pedagang dan pengelola menjadi krusial untuk keberlanjutan acara ini.
Dampak Pada Komunitas Pedagang
Kontroversi ini tidak hanya berdampak pada keuangan para pedagang, tetapi juga pada moral dan kepercayaan mereka terhadap sistem. Saat rasa curiga dan ketidakpuasan mengemuka, solidaritas antar pedagang bisa terancam. Keberhasilan acara CFD sangat bergantung pada partisipasi dan kemitraan yang kuat antara semua pihak, sehingga diperlukan solusi yang proporsional dan adil untuk mengembalikan harmoni.
Perspektif Hukum
Dari sudut pandang hukum, penggunaan rekening pribadi untuk transaksi yang seharusnya dikelola lembaga bisa menjadi masalah serius. Pedagang dapat menuntut tindakan dari pihak berwenang untuk menginvestigasi potensi pelanggaran. Tindakan hukum mungkin diperlukan untuk memastikan bahwa pengelolaan acara CFD dilaksanakan secara legal dan mengikuti prinsip akuntabilitas. Perlindungan hukum yang jelas bisa mengembalikan kepercayaan dan memastikan keberlangsungan acara yang adil bagi semua pihak.
Menyongsong Solusi Berkelanjutan
Untuk mengatasi permasalahan ini, dibutuhkan dialog terbuka antara pengelola CFD, pedagang, dan pihak berwenang. Pembentukan komite yang mewakili semua pihak bisa menjadi solusi untuk mengaudit secara transparan pengelolaan dana serta memastikan kepentingan pedagang terakomodasi secara proporsional. Dengan demikian, keseimbangan dan kepercayaan bisa dipulihkan, memberikan kesempatan untuk tumbuhnya ekonomi lokal secara berkelanjutan. Pada akhirnya, solusi yang inklusif dan partisipatif akan menjadi kunci keberhasilan jangka panjang bagi acara CFD di Gresik.
Dengan mempertimbangkan semua faktor, sudah saatnya semua pihak bergerak bersama untuk menciptakan perubahan yang lebih baik. Keberlanjutan dan keadilan dalam pengelolaan acara seperti ini adalah tanggung jawab kolektif yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi lokal dan sosial yang lebih merata bagi semua pihak yang terlibat.
